"Nilai tasawuf bukanlah pada jubah sufi (khirqah) melainkan pada cahaya hati (hirqah)". (Junayd Al-Baghdadi (w. 223H)
Ada banyak gizi ruhani yang mengalir begitu saja dari dunia keseharian. Tetapi, seperti halnya berbagai zat makanan yang terlihat jelas melalui mikrosop atau melalui reaksi kimia (reagent), begitulah, aliran itu hanya tampak jelas melalui kacamata sufi: dari tawa dan canda (humor), alunan musik, dunia kerja, perjalanan, saat "gaul", rutinitas ibadah, dan seterusnya. Semakin bersih kacamata itu, semakin deraslah aliran gizi ruhani. Dan berkat gizi ruhani, hidup semakin bisa dinikmati sekaligus dihayati.
Meski begitu, ditengah guruh kehidupan, di dalam daging sejarah manusia, bukan mustahil kacamata sufi itu mengalami keburaman. Tak heran kalau dalam perjalanan sejarahnya, tasawuf selalu diwarnai oleh silih bergantinya para pembaharu yang mengkilapkan kembali kacamata itu. Taruhlah seperti Al-Ghazali dengan karyanya ihya' ulumuddin, Ibn Taimiyah dengan 'ilmu suluk, Ibn Qayyim dengan madarij al-salikin, Ibn 'Arabi dengan futuhat al-makkiyyah, dan seterusnya.
Nah.. bersiaplah memasuki cermin-cermin yang telah dikilapkan kembali oleh para 'alim. Berkacalah.. Bercerminlah.. Agar engkaupun dapat bersegera mengkilapkan diri dan hatimu. Siapa tahu engkau terpilih menjadi bagian dari cermin-cermin itu. Cermin yang manfaatnya akan dirasakan oleh haasibin (orang-orang yang selalu muhasabah diri). Bukankah begitu?
[dinukil dengan tambahan seperlunya dari buku: Bertasawuf tanpa tarekat, karya C. Ramli Bihar Anwar]
Selasa, 20 Mei 2008
Tasawuf
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

1 komentar:
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Bismillah Khairil Asma
Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Aali Muhammad
Kami mengundang saudara-saudara semua untuk berkunjung
ke website kami :
http://www.hasanhusein.blogspot.com
Wassalam
Poskan Komentar