Kamis, 08 Mei 2008

LAKI-LAKI DAN RASA IBA

Kutoraharjo, tiba-tiba geger. Dipagi buta, ratusan warga desa yang terletak di kecamatan paling timur kabupaten Kendal Jawa Tengah ini menyerbu tiga rumah warga yang diduga menyebarkan ajaran sesat. Ajaran baru yang oleh warga mayoritas di Kutoraharjo dirasa sangat meresahkan, karena menentang ajaran-ajaran lama yang telah dipraktikkan warga desa dan kecamatan kota yang banyak santrinya ini dan karenanya kota ini pun terkenal dengan sebutan kota santri. Ajaran yang jadi bahan olok-olok mereka yang kemudian jadi sasaran amuk massa terutama adalah praktik ziarah kubur, tabarruk, tawassul, dan maulid Nabi.
Ajaran yang telah lama menjadi bahan perdebatan walau sesungguhnya telah banyak diberikan penjelasan oleh para kiai atau ulama yang faqih/kompeten mengenai masalah ini baik melalui ceramah, diskusi maupun dalam bentuk tulisan seperti buku dan buletin namun tetap saja menjadi bahan perdebatan bahkan perseteruan yang tiada ujung pangkalnya. Ajaran yang sebenarnya memiliki akar sejarah sangat kuat karena juga dipraktikkan oleh para salafushshalih dahulu, demikian yang tertulis dalam buku-buku yang mencoba memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran-ajaran ini.
Seorang sesepuh warga, Bapak Djamal, menuturkan bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan dan mencegah amuk massa yang pada akhirnya berhasil meratakan tiga rumah yang menjadi sasaran kemarahan. "Sejak awal saya sudah mengingatkan mereka, jangan menyebarkan ajaran yang akan mengganggu ketentraman warga lainnya, namun mereka bergeming, tetap saja mengadakan kajian untuk mendakwahkan keyakinan yang menurut mereka sesuai Qur'an dan Sunnah itu. Padahal di desa ini mereka orang baru yang seharusnya lebih hati-hati dalam bersikap, dan lagi mereka mengaku intelek lulusan perguruan tinggi umum dan tidak pernah belajar di pesantren manapun, tapi anehnya kok masalah agama yang dijadikan bahasan dalam setiap kajian mereka, apa ndak salah jalur itu?, apa di perguruan tinggi umum ada fakultas agamanya??. Jaman wis akhir.. okeh sing do kuwalik." Bathin Pak Djamal.
Dhani, salah seorang "korban" yang kini rumahnya rata dengan tanah mengaku tidak habis pikir kalau kegiatan kajian keislaman yang menurutnya sesuai dengan semangat pemurnian islam ini harus diprotes bahkan dibubarkan oleh masyarakat yang katanya masyarakat santri. Aneh, pikirnya. Bukankah yang dilakukannya bersama anggota kajiannnya adalah berusaha menyadarkan masyarakat dan menyelamatkan mereka dari penyelewengan praktik-praktik keagamaan. Bukankah kegiatan semacam ziarah kubur, tabarruk, dan tawassul serta maulid Nabi sudah mengalami penyimpangan-penyimpangan, bahkan untuk yang terakhir, Nabi tidak pernah mencontohkan. Dan kalau tidak dicontohkan, bukankah hanya akan sia-sia karena akan tertolak.
Akhirnya Dhani, Roni dan Hirwanto yang menjadi korban amuk massa bersepakat untuk mengadu ke pengadilan dan ke kepolisian. Sementara untuk tempat tinggal, mereka dan keluarga masing-masing mengungsi di rumah warga yang menjadi anggota kajian mereka di desa Sariraharjo. Desa yang terletak disebelah barat desa Kutoraharjo, namun masih satu kecamatan. Sebelum melapor ke polisi dan pengadilan mereka meminta nasehat kepada Kiai Djawahir, salah seorang ulama yang cukup disegani dan menjadi perekat berbagai golongan/aliran dalam agama karena keluasan ilmu dan wawasannya.
Kata Kiai Djawahir: "Bukan hanya kerugian materi yang menimpa kalian yang menjadi perhatian saya, namun lebih dari itu adalah luapan kejengkelan warga masyarakat yang awalnya tentram, damai dan sejuk yang terbakar kemarahan mereka gara-gara sulutan dari percikan api "kajian" kalian. Kenapa masalah yang sensitif itu selalu kalian ungkit, padahal kalau kalian berniat mencari kebenaran, luangkan waktu untuk mempelajari referensi seputar amalan yang kalian ributkan itu. Kalau dalam dunia medis, masyarakat itu ibarat para pasien, sementara para kiai dan ulama adalah dokternya dan para santri yang serius belajar agama adalah mahasiswa kedokteran. Jika ada pasien datang ke dokter A misalnya, lalu diberi resep dan di ikutinya saran dan resep dari dokter A itu, ya kita ndak perlu ikut komentar apalagi membahas tentang resep dan saran-saran dokter tersebut kecuali untuk "menanyakan" saja, itupun kalau kita anggap sangat perlu dan akan bermanfaat bagi kita."
"Kami belum paham maksud Ustadz." Jawab Dhani, Roni dan Hirwanto serentak. "kalian punya guru, ustadz atau kiai sendiri, yang tentu berbeda dengan kiai atau ulama yang membimbing masyarakat Kutoraharjo, betul begitu?." Iya, betul Ustadz, eh.. Kiai”. Jawab mereka kompak. "Nah, kalau dokternya saja beda, jangan heran kalau kemudian resepnya juga berbeda, bahkan dokter yang sama pun untuk pasien yang berbeda walau jenis penyakitnya sama, bisa memberi resep yang berbeda. Bukankah begitu?." "Betul kiai..". "Ya sudah, kalian bisa meraba sendiri siapa yang sesungguhnya lebih bersalah sehingga lebih dahulu harus meminta maaf sebelum diadakan qishas atau tuntutan penggantian ganti rugi." Kalau mau membahas agama, belajar dulu yang serius seperti belajarnya para mahasiswa kedokteran. Sehingga kalau waktunya terjun ke masyarakat tidak mudah mal praktik, bisa dituntut miliaran rupiah lho..!
"Jadi, sebaiknya kami melapor ke siapa Kiai.., polisi, pengadilan, atau cukup ke Pak Lurah untuk kemudian musyawarah di Balai Desa?. "Ya, terserah kalian, bagaimana baiknya. Kalau saran saya tidak perlu sampai kepolisian dan pengadilan segala selama masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Begitu ya dek? saya pamit dulu, mau keluar.. ziarah ke makam Kiai Guru, atau mau ikut menemani?? Ayo ah, assalamu'alaikum."
Kiai Djawahir merasa iba, sangat iba dengan anak-anak muda yang cukup pendidikan umumnya, yang rata-rata lulusan perguruan tinggi namun tidak mendapatkan pendidikan agama sejak dini, karena memang sejak sekolah TK, SD, SMP sampai SMA-pun di sekolah umum yang notabene pelajaran agamanya sangat tidak memadai dan oleh orang tuanya juga tidak sempat dididik agama karena mereka sendiri tidak begitu paham agama. "Kasihan betul kalian, padahal dari sisi semangat kalian sangat bagus, tapi kenapa tidak diimbangi dengan semangat belajar agama yang tinggi, ingat! semangat belajar, bukan semangat komentar atau semangat membahas apa-apa yang kalian tidak punya pengetahuan tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungan jawab. Demikian kata Qur'an. Nah..

Oleh: Miftahul Huda, alumnus Subulassalam Ngesrep Semarang

1 komentar:

TAZ-mania (taufik-atti-zahwa) mengatakan...

ooops... mau komentar ga jadi ah....
:p