Jumat, 18 Januari 2008

Senandung bela

Bagaimana membela.. ?
Siapa yang layak dibela, yang kudu dan wajib dibela?

Urusan bela-membela ini sangat penting, sampai-sampai agamapun ikut mengaturnya. Dalam suatu hadits, Rasul yang mulia pernah bersabda, "Barangsiapa yang mati karena membela kehormatan dirinya, hartanya dan keluarganya, maka ia mati syahid." Subhanallah.. Maka kalau Anda, suatu ketika dirampok dan anda lawan perampok itu, kemudian Anda kalah dan mati. Maka Anda syahid. Kalo Istri atau Anak Anda diperkosa orang, lalu Anda lawan pemerkosanya dan Anda mati, maka syahidlah Anda.

Membela diri, harta, keluarga, sampai kepada membela agama, bangsa dan negara adalah contoh-contoh bentuk pembelaan yang kudu dilakukan, harus diupayakan. Karena ada jaminan syahid disana. Suatu keadaan yang sangat didambakan orang-orang beriman, mati dengan status syahid.

Dalam sebuah puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail, di sebutkan : "Rasul menyuruh kita/membela orang-orang tertindas/Rasul sendiri ketika di Mekkah ditindas/Membela orang-orang tertindas/sama dengan membela Rasul kita."

Siapakah orang-orang tertindas itu, bukankah kalau kita bermalas-malasan maka kita sedang menindas diri kita sendiri? menindas anugerah waktu yang kita miliki.
Kalau ada beras jatah, diperuntukkan bagi sekelompok masyarakat miskin lalu oleh pihak pengelola, raskin ini dijual sendiri, didistribusikan sendiri ke sasaran yang lain, maka sekelompok masyarakat miskin tadi telah ditindas. Demikian juga dengan pembagian kompor gas beserta tabung gasnya. Dan banyak lagi jenis-jenis pembagian-pembagian yang lain, dst.. dst.. Betapa banyak orang-orang/masyarakat tertindas disekitar kita, karena setiap ada yang tertindas ada pula penindasnya. maka betapa tidak sedikit jumlah penindas di sekitar kita.

Siapakah selain manusia, pihak lain lagi yang ditindas. Bukankah kalau kita membuang sampah tidak pada tempatnya, kita tidak hanya menindas sampah-sampah itu, namun juga tempat yang harusnya bebas sampah, orang-orang disekitar tempat itu yang terganggu entah karena polusi udaranya, baunya, pandangan matanya dsb. Menyimpan sampah tidak pada tempatnya memang dzalim dan menindas, sebagaimana kalau kita meletakkan topi di telapak kaki. Karena penindasan adalah kedzaliman, dan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya adalah kedzaliman atau menindas objek sesuatu tersebut. Masih banyak lagi yang bisa kita daftar apa-apa saja yang sering ditindas, ayo kenali.. untuk kemudian kita bela.

Penindasan membutuhkan perlawanan, Barang siapa melihat kemungkaran, maka wajib merubahnya. Jika bisa dengan tangan/kekuasaan, dengan lisan/tulisan, atau yang paling lemah adalah dengan hati. Sebuah do'a dipanjatkan oleh salah seorang cucu Baginda Nabi, "Ya Allah, ampunilah daku..Di depan mataku kulihat penindasan, namun aku tidak mampu merubahnya." Dengan do'apun diajarkan kalau memang ini kemampuan yang kita punya, lakukan saja! ada kalanya doa lebih jitu dari tulisan, lisan, dan bahkan tangan/kekuasaan.

Jika mampu, jangan sungkan menunjukkan kemampuan merubah kemungkaran menjadi sesuatu yang ma'ruf/baik. Kita adalah pejuang, dengan skala masing-masing. Kita semua adalah ulama' pada skala masing-masing. Kita semua adalah pemimpin, pada skala masing-masing, yang akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinan kita. Nah.. Kita semua juga menjadi pembela orang-orang lemah, orang-orang tertindas, pada skala masing-masing. Lakukan semampu kita, semaksimal yang kita bisa. BELA ORANG TERTINDAS, dengan melepaskan penindasan yang menelingkupnya. Kalau terlalu banyak penindasan yang terjadi, sementara kita hanya bisa membela satu saja, maka PASTI penindasan akan berkurang dari BANYAK menjadi BANYAK MINUS SATU. Sebagaimana kalau kita mau beramal dengan memungut sampah yang berserakan tidak pada tempatnya, jika terlalu banyak ambil saja walau cuma satu, karena yaqinlah pasti akan berkurang sampah tersebut dari banyak menjadi banyak minus satu. Bukankah begitu..

(Miftahul Huda El-Qindaly, di basecamp prost'99 pada 9 Muharram 1429H)

0 komentar: